Jumat, 06 Januari 2012

laporan pratikum dasar dasar perlindungan tanaman


LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
DASAR-DASAR
PERLINDUNGAN TANAMAN



OLEH


Farid Halfero
1010212027



 














PRODI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2011

 
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim..
            Puji dan syukur atas karunia yang diberikan oleh Allah SWT yang selalu memberi kenikmatan iman dan islam serta nikmat dalam menikmati kehidupan didunia ini. Shlawat dan salam tercurahnya selalu kepada baginda Besar Muhammad SAW, yang membawa ummadnya dari zaman kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan. Sehingga ilmu sapai sekarang dapat dimamfaatkan dalam berbagai kegunaan di dunia ini.
            Salah satu solusi untuk dapat mengetahui jenis hama maupun penyakit perlu adanya percobaan dan pengamatan pada objek yang bersangkutan secara langsung, dengan praktikum ini salah satu solusi untuk mengetahui jenis nematoda pada tanaman itu sendiri. Laporan ini merupakan syarat untuk mengikuti UAP dasar-dasar perlindungan tanaman padi semester III ini yang berisi dari hasil pengamatan secara langsung dan penyebab dari nematoda terhadap berbagai jenis tanaman.
            Semoga dengan laporan ini sedikit bisa menjadikan bahan pegangan untuk permasaalahan di lingkungan sendiri. Penulis menyadari masih banyak kesalahan didalam penyusunan laporan ini, maka dari itu penulis sangat mengharapkan kritikan, saran dan masukan dalam hal membangun agar dapat mempertajam dari kebenaran laporan ini kedepannya.
            Akhirnya ucapan terima kasih sebesar-besarnya penulis kepada dosen, asisten yang sudah membagikan ilmu dan membimbing penulis dalam suksesnya penyusunan laporan ini. Terima kasih juaga kepada rekan-rekan seperjuangan yang sudah bekerja sama pada saat praktikum berlangsung. Semoga laporan ini dapat bermamfaat terutama untuk penulis  sendiri dan bagi pembaca laporan ini, semoga bisa menjadi pegangan untuk melakukan kegiatan praktikum yang sama kedepannya.
Padang, 02 Desember 2011

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................   i
DAFTAR ISI ............................................................................................    ii
BAB I.  PENDAHULUAN......................................................................    1         
1.1.  Latar Belakang ..........................................................................    1
1.2.Tujuan .........................................................................................    2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA............................................................    3
        2.1.Patogen Jamur pada Tanaman............................................   3
         2.2. Virus pada Tanaman...................................................................    5
         2.3. Identivikasi Bakteri....................................................................    7
         2.4. Nematoda...................................................................................    7
         2.5. Morfologi serangga...................................................................     8
         2.6. Perkembangbiakan Serangga....................................................     9
         2.7. Ordo Serangga...........................................................................    11
         2.8. Gejala serangan Hama...............................................................   12
         2.9. Gulma.................................................................................... ...    18
         2.10Pengendalian PHT................................................................ .....   21
BAB III. BAHAN DAN METODA .......................................................    26
         3.1. Tempat dan Waktu ....................................................................    26
          3.2. Alat dan Bahan .........................................................................    26
          3.3. Prosedur Kerja ..........................................................................    26
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................    27
        4.1. Hasil dean Pembahasan Patogen Jamur Tanaman ......................    27
        4.2. Hasil dan Pembahasan Patogen Virus Tanaman ...........................    27
 4.3.Identifikasi bakteri................................................................. .....    28
 4.4.Nematoda............................................................................... .....    28
 4.5.Morfologi Serangga.....................................................................    28
 4.6.Perkembangbiakan serangga.......................................................    28
 4.7.Ordo Serangga.............................................................................    29
 4.8.Kulia lapangan ....................................................................... .....   31

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN.................................................    33
          5.1. Kesimpulan ...............................................................................    33
          5.2. Saran .........................................................................................    33
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................    34
LAMPIRAN  ............................................................................................    35









BAB I
PENDAHULUAN
1. 1.      Latar Belakang
Dasar perlindungan tanaman merupakan kajian ilmu yang mempelajari bagaimana cara menanggulangi gangguan terhadap tanaman, melindungi tanaman, serta memaksimalkan pemanfaatan mikroorganisme dari yang awalnya mengganggu dapat berubah menjadi mikroorganisme yang berguna bagi pertanian. Pada kajian ilmu ini dibagi dua objek besar yaitu Hama dan Penyakit. Bagaimana cara kita menanggulangi hama terebut dan bagaimana cara kita mengatasai penyakit yang menyerang tanaman.
Untuk mengenal berbagai jenis binatang yang dapat berperan sebagai hama, maka sebagai langkah awal dalam kuliah dasar-dasar Perlintan  akan dipelajari bentuk atau morfologi, khususnya morfologi luar (external morphology) binatang penyebab hama. Namun demikian, tidak semua sifat morfologi tersebut akan dipelajari dan yang dipelajari hanya terbatas pada morfologi “penciri” dari masing-masing golongan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam melakukan identifikasi atau mengenali jenis-jenis hama yang dijumpai di lapangan.
Dunia binatang (Animal Kingdom) terbagi menjadi beberapa golongan besar yang masing-masing disebut Filum. Dari masing-masing filum tersebut dapat dibedakan lagi menjadi golongan-golongan yang lebih kecil yang disebut Klas. Dari Klas ini kemudian digolongkan lagi menjadi Ordo (Bangsa) kemudian Famili (suku), Genus (Marga) dan Spesies (jenis).
Dasar-dasar perlindungan tanaman ini notabene merupakan bidang kajian ilmu yang wajib dimiliki dan menjadi basic bagi mahasiswa pertanian pada umumnya. Karena kajian ilmu ini mempelajari bagaimana cara menanggulangi gangguan terhadap tanaman yang berasal dari hama dan penyakit tanaman. Didasari dari hal inilah maka sebagai mahasiswa pertanian haruslah memiliki skill di bidang ini. Pada dewasa ini, salah satu masalah yang menyelimuti dunia pertanian adalah tentang hama dan penyakit tanaman ini. Diperlukan lulusan-lulusan fakultas pertanian yang dapat meminimalisir dampak yang dihasilkannya.
Disamping mendapatkan ilmu melalui teori yang diajarkan oleh dosen di dalam kelas, mahasiswa juga  dapat menambah ilmu melalui praktikum-praktikum yang diadakan baik itu di laboratorium atau di lapangan. Maka oleh sebab itu perlu diadakan praktikum untuk memperdalam pengetahuan sebagai pelengkap teori yang diberikan oleh dosen pada waktu perkuliahan.

1. 2.      Tujuan Praktikum
Praktikum dasar perlindungan tanaman ini memiliki tujuan untuk mengetahui secara dalam hama dari bentuk morfologinya, ordo, dan metamorfosisnya serta mengetahui berbagai macam penyakit dan cara menanggulanginya.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Patogen Jamur pada Tanaman
Klasifikasi dari penyakit Collectotrichum capsici yang menyerang tanaman cabai terdiri atas Kingdom Fungi, Divisio Ascomycota, Kelas Sordariomycetes, Ordo Phyllachorales, Famili Phyllachoraceae, Genus Collectotrichum capsici, spesies Collectotrichum capsici (Wordpress, 2008)
Klasifikasi dari penyakit Fusarium oxysporum yang menyerang tanaman tomat terdiri atas Kindom Fungi, Divisi Eumycota, SubDivisi Deuteromycotina, Kelas Hypomycetes, Ordo Moniliales, Famili Tuberculariaceae, Genus Fusarium, Spesies Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Blogspot, 2009)
Klasifikasi dari penyakit Phytophthora palmivora yang menyerang tanaman kakao terdiri atas Kingdom Stramenophiles, Kelas Oomycetes, ordo Peronosporales, Famili Pythiaceae, Genus Phytophthora, Spesies Phytophtora palmivora Butler. (Wordpress, 2008)
Klasifikasi dari penyakit Fusarium oxysporum yang menyerang tanaman pisang terdiri atas Kindom Fungi, Divisi Eumycota, SubDivisi Deuteromycotina, Kelas Hypomycetes, Ordo Moniliales, Famili Tuberculariaceae, Genus Fusarium,
Spesies Fusarium oxysporum f.sp cubense (Blogspot, 2009)
Mekanisme Jamur Menginfeksi Tanaman
Jamur Collectotrichum capsici menginfeksi tanaman cabai melalui biji buah yang sakit dengan masuk kedalam ruang biji. jamur ini dapat mempertahankan diri dalam sisa-sisa tanaman sakit (Wordpress, 2008).
Jamur Fusarium oxysporum f.sp lycopersici menginfeksi tanaman tomat dengan cara mengadakan infeksi pada akar melalui luka-luka, lalu menetap di berkas pembuluh. Selain itu, Jamur dapat juga menginfeksi tanaman karena faktor pengangkutan bibit, tanah yang terbawa oleh angin atau air atau alat pertanian (Blogspot, 2009).
Jamur Phytophthora palmivora dapat menginfeksi tanaman kakao melalui tanah ataupun bagian tanaman lain yang sakit. Misalnya batang yang sakit kanker batang, buah yang sakit, dan tumbuhan inang lainnya, Selain itu, tanaman dapat pula terinfeksi karena alat pertanian yang digunakan terkontaminasi oleh jamur (Wordpress, 2008).
Jamur Fusarium oxysporum f.sp cubense dapat menginfeksi tanaman melalui adanya luka-luka pada akar, penularan penyakit karena perakaran tanaman sehat berhubungan dengan spora yang dilepaskan oleh tanaman sakit didekatnya. Jamur dapat pula terbawa oleh tanah yang melekat pada alat-alat pertanian, selain itu, perendaman tanah dan air pengairan dapat juga menyebabkan pemencaran setempat
(Blogspot, 2009).
Gejala Serangan
Menurut Triharso (2004), Gejala serangan Jamur Colletotrichum capsici pada tanaman cabai mula-mula membentuk bercak cokelat kehitaman, yang lalu meluas menjadi busuk lunak. Pada tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang terdiri dari kelompok seta dan konidium jamur. Serangan yang berat dapat menyebabkan seluruh buah mengering dan mengerut (keriput). Buah yang seharusnya berwarna merah menjadi berwarna seperti jerami. Jika cuaca kering jamur hanya membentuk bercak kecil yang tidak meluas. Tetapi kelak setelah buah dipetik, karena kelembaban udara yang tinggi selama disimpan dan diangkut, jamur akan berkembang dengan cepat.
Menurut Semangun (2004),Gejala yang ditimbulkan Jamur Fusarium oxysporum f.sp lycopersici pada tanaman tomat ialah menjadi pucatnya tulang-tulang daun, terutama daun-daun sebelah atas,kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai dan akhirnya tanaman menjadi layu keseluruhan. kadang kelayuan didahului dengan menguningnya daun, terutama daun-daun sebelah bawah. Tanaman menjadi kerdil dan merana tumbuhnya. Jika tanaman yang sakit itu dipotong dekat pangkal batang atau dikelupas dengan kuku atau pisau akan terlihat suatu cincin coklat dari berkas pembuluh.
Infeksi jamur Phytophthora palmivora pada buah menunjukkan gejala bercak berwarna kelabu kehitaman. Biasanya bercak tersebut terdapat pada ujung buah. Bercak mengandung air yang kemudian berkembang sehingga menunjukkan warna hitam. Bagian buah menjadi busuk dan biji pun turut membusuk. Pembentukan spora terlihat dengan adanya warna putih di atas bercak hitam yang telah meluas. Jaringan yang tidak terinfeksi tampak jelas dan dibatasi oleh permukaan kasar, tetapi bercak dapat berkembang dengan cepat dan seringkali menampakkan pembusukan yang menyeluruh dan berwarna hitam. (Blogspot, 2009)
Menurut Semangun (2004), Gejala serangan jamur Fusarium oxysporum f.sp cubense pada tanaman pisang terlihat pada tepi daun-daun bawah berwarna kuning tua, yang lalu menjadi coklat dan mengering. Tangkai daun patah disekeliling batang palsu. Gejala dalam yang dimiliki jamur ini adalah jika pangkal batang dibelah membujur, terlihat garis-garis coklat atau hitam menuju ke semua arah, dari batang ke atas melalui jaringan pembuluh ke pangkal daun dan tangkai. Perubahan warna pada berkas pembuluh paling jelas tampak dalam batang.
2.2 Virus pada Tanaman
Virus hanya dapat membiak di dalam sel yang hidup dan disebut parasit yang biotroph. Secara kimiawi virus terdiri dari nucleoprotein, suatu persenyawaan dari asam inti dan putih telur.
Asam inti pada virus dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu RNA atau Ribo Nuclei Acid yang terdapat pada virus yang menyerang tumbuhan dan DNA atau Deoxy Nuclei Acid yang terdapat pada virus yang menyerang hewan dan bakteri.
Putih telur virus umumnya terdiri dari Purine dan Pyrymidine. Derivat dari Purine adalah Adenine dan Guanine, sedangkan derivat dari Pyrimidine adalah Cytosine dan Thymine yang mengikat DNA serta Cytosine dan Uracil yang mengikat RNA.
Pada virus yang berbentuk batang ternyata di dalamnya terdapat rongga sebesar 9,0 nm. Asam inti pada virus tersebut berupa nucleotida yang membentuk spiral dan setiap tiga nucleitida mengikat satu unit putih telur.
Virus sebenarnya bentuknya macam-macam. Tetapi kita tidak dapat mengadakan determinasi hanya berdasarkan bentuk atau morfologi saja, sebab di samping satu virus bentuknya dapat berubah-ubah juga ada beberapa virus yang bentuknya sama. Secara garis besar bentuk virus dibedakan atas bulat (coccus), batang pendek (bacillus), batang biasa dan benang (filamen).
Virus dapat menular dari suatu tanaman ke tanaman lain dengan berbagai cara antara lain secara mekanis, melalui biji, dengan penyambungan atau penempelan dan yang paling umum melalui vektornya yang dapat berupa serangga, nematoda, jamur, bakteri dan tumbuhan tinggi parasitis. Virus yang ditularkan oleh vektor serangga dapat dibedakan menjadi nonpersisten artinya begitu dihisap oleh serangga segera dapat ditularkan ke tanaman lain, tetapi daya infektifnya cepat habis dan yang persisten artinya agar dapat ditularkan ke tanaman lain memerlukan waktu di dalam tubuh serangganya, tetapi kalau sudah ditularkan daya infektifnya lama bahkan ada yang dapat diturunkan ke anak cucunya.
Virus dapat di-inaktifkan dengan berbagai cara, antara lain dengan suhu baik rendah maupun tinggi atau pembekuan serta pemanasan; radiasi dengan sinar X, sinar UV, sinar radioaktif; dengan getaran ultrasonik; dengan penyimpangan; dengan tekanan tinggi; dengan pengenceran; dengan perubahan pH dan bahan atau senyawa yang berasal dari organisme lain.
Virus dapat diberi nama menurut SMITH yaitu berdasarkan nama dari tanaman inangnya dan bila pada tanaman itu terdapat banyak virus maka untuk membedakan virus satu dengan virus yang lain dengan menggunakan nomer. Sedang menurut HOLMES pemberian nama seperti pada organisme lain, misalnya Marmor saccaari sama dengan Saccjarum virus 1, Galla fijlensis sama dengan Saccharum virus 2 dan seterusnya.
Virus yang dianggap sebagai suatu ordo dibagi menjadi tiga sub ordo berdasarkan organisme yang diserangnya, yaitu sub ordo Phaginae yang menyerang bakteri, Phytophaginae yang menyerang tumbuhan dan Zoophaginae yang menyerang hewan. Dari sub ordo Phytophaginae ada beberapa genus yang penting misalnya Marmor antara lain M. tabaci yang menyerang tembakau, M. theobromae yang menyerang coklat, M. arachidis yang menyerang kacang tanah; genus Corium misalnya C. solani yang menyerang Solanaceae; genus Nanus misalnya N. sacchari yang menyerang tebu; genus Ruga misalnya R. tabaci yang menyerang tembakau; genus Rimocortium misalnya R. psorosis penyebab penyakit psorosis pada tanaman jeruk.

2.3 Identifikasi Bakteri
Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu dengan ukuran sangat kecil yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Bakteri berkembang biak dengan cara membelah diri, serta mengambil bahan makanan secara parasitis dengan cara menghisapnya melalui dinding sel. Bakteri diketahui memiliki empat bentuk, diantaranya berbentuk batang (baksilus), bulat (kokkus), koma (vibrion), dan spiral (spirilum). Virus merupakan organisme subselular yang berukuran sangat kecil, lebih kecil dari bakteri sehingga hanya dapat dilihat menggunakan mikroskop elektron dan hanya dapat membiak di dalam sel yang hidup sehingga virus disebut parasit yang biotroph. Gejala serangan penyakit virus sering tidak dapat dibedakan dengan gejala kekurangan unsur hara, pengaruh faktor lingkungan yang ekstrim ataupun pengaruh pencemaran bahan kimia. Yang membedakan penyakit tanaman karena serangan virus dengan penyakit tanaman Non-patogenik (yang bukan disebabkan oleh patogen) adalah bahwa penyakit tanaman yang terserang virus dapat ditularkan pada tanaman yang sehat, sedangkan tanaman Non-patogenik tidak dapat ditularkan. Agar terhindarnya tanaman dari penyakit, maka pengetahuan lebih lanjut tentang bakteri dan virus harus dikembangkan untuk mendapatkan pengendalian peyakit yang efektif (Triharso, 2004).
2.4 Nematoda
Nematoda meskipun termasuk hewan tapi biasa kiita golongkan sebagai penyebab penyakit karena gejala dan cara penyerangannya mirip dengan patogen lainnya. Nematoda boleh diartikan sebagai cacing silindris yang tidak bersegmen (unsegmented roundworm) meskipun sebenarnya nematoda berarti menyerupai benang (threadlike). Namun demikian nematoda ini sangat berbeda dengan cacing yang lain. Nematoda mempunyai sejumlah spesies yang sangat banyak.
Nematoda ada yang bersifat saprofitis dan ada yang bersifat parasitis pada berbagai organisme lain seperti serangga, ikan, burung, manusia, tumbuhan termasuk jamur dan bakteri bahkan juga terhadap nematoda yang lain.
Daur hidup nematoda pada umumnya sebagai berikut :
  1. Nematoda betina meletakkan telurnya dlam tanah atau di dalam tanaman inangnya,
  2. Telur yang menetas menghasilkan larva,
  3. Larva ini berkembang melalui empat tingkatan,
  4. Setelah larva terakhir terbentuklah nematoda dewasa yang dapat dibedakan menjadi jantan dan betina.
Namun demikian banyak nematoda yang hermaprodit, bahkan ada jenis yang jantannya tidak pernah dijumpai.
Nematoda yang menyerang tanaman adalah parasit obligat, oleh karena itu telurnya harus diletakkan di dalam atau di dekat tanaman inangnya hingga segera setelah menetas langsung mendapatkan makanannya. Di samping itu banyak telur nematoda yang untuk penetasan telurnya memerlukan rangsangan dari tanaman inangnya, dengan demikian sangat membantu kelangsungan hidupnya. Larva nematoda tidak mampu bergerak lebih dari 1-2 kali dari telurnya setelah menetas.
Nematoda parasit pada tanaman dapat dibedakan menjadi ectoparasit dan endoparasit. Nematoda ectoparasit misalnya genus Trichodorus, Longidorus dan Xiphinema. Ketiga nematoda ini selain menjadi patogen pada tumbuhan juga menjadi vektor virus yang menyerang tumbuhan.
Nematoda endoparasit ada dua golongan yaitu yang dapat berpindah tempat dan yang menetap. Keduanya dapat dibedakan menjadi yang sebagian tubuhnya tenggelam ke dalam jaringan tanaman iang dan yang seluruh tubuhnya tenggelam ke dalam tumbuhan inangnya. Nematoda endoparasit yang dapat berpindah dan seluruh tubuhnya tenggelam ke dalam tanaman, misalnya genus Radopholus, Ditylenchus dan Aphilenchus sedang yang hanya sebagian tubuhnya yang tenggelam dalam tanaman, misalnya genus Hoplolainus, Hellicotylenchus dan Rotylenchus.
Nematoda endoparasit yang menetap dan seluruh tubuhnya tenggelam ke dalam tanaman inangnya misalnya Meloidogyne dan Heterodera sedang yang hanya tenggelam sebagian tubuhnya ke dalam tanaman inangnya misalnya Rotylenchus dan Tylenchulus.

2.5 Morfologi Serangga
Tubuh serangga seperti pada belalang dan kumbang dibagi dalam tiga daerah yaitu: Kepala, toraks, dan abdomen. Kepala terdiri dari satu segmen merupakan daerah yang jelas pembawa kebanyakan organ sensori serangga seperti mata, antenna, dan alat mulut. Toraks terdiri dari 3 segmen dan merupakan bagian yang terberat dari tubuh, dan pembawa kaki serta sayap bila telah ada. Abdomen terdiri dari 11 segmen atau kurang; biasanya ia tidak mempunyai anggota gerak, segmen pada bagian posterior mempunyai fungsi khusus untuk reproduksi. (Triharso. 1996. 75)

2.6 Perkembang biakan serangga
Sebagian besar serangga mempunyai jenis kelamin yang terpisah dengan system reproduksi kompleks. Pada jantan sperma berkembang dalam sepasang testis dan dialirkan sepanjang duktus (saluran) yang melilit-lilit menuju dua vesikula seminalis, tempat sperma akan disimpan. Selama perkawinan sperma diejakulasi ke system reproduksi betina. Pada betina telur berkembang dalam sepasang ovarium dan dialirkan melalui duktus ke vagina, dimana fertilisasi terjadi. Pada banyak spesies sistem reproduksi melipiti spermateka yaitu sebuah kantong tempat sperma disimpan didalamnya selama satu tahun atau lebih.(Campbell.2002:156)
            Semua makhluk hidup mempunyai kemampuan untuk menghasilkan organisme baru yang sama dengan dirinya, ini berkaitan dengan reproduksi. Pertumbuhan serangga setelah embrio terdiri atas serangkaian tahapan, dimana serangga mengalami perubahan bentuk dari larva kebentuk dewasa atau imago. Proses yang melibatkan pertumbuhan mengalami serangkaian ganti kulit dan perubahan bentuk dimana ciri-ciri larva hilang dan muncul ciri dewasa.
            Seperti pada anthropoda lain, pertumbuhan serangga merupakan serangkaian dari tahap eksdisis (ganti kulit). Disini rangka luar (eksoskeleton) yang kaku tidak dapat merentang, secra periodik dilepaskan dan diganti dengan rangka luar baru yang lebih besar
. Banyak serangga yang mengalami metamorfosis dsisni terdapat sederetan tahap juvenile yang masing-masing memerlukan pembentukan rangka luar baru. Pada beberapa ordo yang lain bentuk dewasa dipisah dari tahap larva oleh bentuk pupa (Kepompong) dan perubahan menjadi bentuk dewasa berlangsung secara tiba-tiba.(Soewolo.1997:376)
           
Perkembang biakan serangga umumnya secra perkawinan aseksual yang berarti sel telur mengalami perkembangan jika bertemu dengan sperma dari yang jantan. Pada umunya serangga betina bertelur dan serangga tersebut disebut ovipar. Ada juga serangga yang berkembang biak tanpa pembuahan, perkembangan tersebut disebut parthenogenesis, sedangkan perkembang biakan dari satu sel telur menjadi banyak embrio disebut polyembriani.
            Bila perkembangbiakan serangga yakni serangga pradewasa yang memperoleh makanan dalam tubuh induknya dan keluar dari tubuh induknya tersebut disebut vivivar. Bila telur menetas dalam tubuh induk dan dilahirkan disebut dengan ovovivivar. Bentuk dan ukuran telur serangga bermacam-macam. Banyak serangga bergani bentuk selama perkembangan pasca embrio, dan instar-instrar yang berbeda tidak semuanya serupa. Perubahan ini disebut metamorfosis. Beberapa serangga mengalami sedikit perubahan bentuk, dan yang muda dan dewasa sangat mirip kecuali mengenai ukuran. Ada tiga tipe metamorfosis pada serangga a) Tidak ada metemorfosis b) metemorfosis sederhana c) metamorfosisisempurna.(Parto.1992:45)
            Perkembangan dari setipa serangga terdiri atas tiga tahap utama embrio, masa belum dewasa, dan masa dewasa. Serangga makan dan tumbuh menyusul penetasan, berganti kulit beberapa waktu sampai tingkat reproduksi dewasa tercapai.(Sunarjo.P.I.1990:147)
Metamorfosis biasanya terjadi pada fase berbeda-beda, dimulai dari larva atau nimfa, kadang-kadang melewati fase pupa, dan berakhir sebagai imago dewasa. Ada dua macam metamorfosis utama pada serangga, hemimetabola dan holometabola. Fase spesies yang belum dewasa pada metamorfosis biasanya disebut larva/nimfa. Tapi pada metamorfosis kompleks pada kebanyakan spesies serangga, hanya fase pertama yang disebut larva/nimfa. Pada hemimetabolisme, perkembangan nimfa berlangsung pada fase pertumbuhan berulang dan ekdisis (pergantian kulit), fase ini disebut instar. Hemimetabola juga dikenal dengan metamorfosis tidak sempurna.
Pada holometabola, larva sangat berbeda dengan dewasanya. Serangga yang melakukan holometabola melalui fase larva, kemudian memasuki fase tidak aktif yang disebut pupa, atau chrysalis, dan akhirnya menjadi dewasa (imago). Holometabola juga dikenal dengan metamorfosis sempurna. Sementara di dalam pupa, serangga akan mengeluarkan cairan pencernaan, untuk menghancurkan tubuh larva, menyisakan sebagian sel saja. Sebagian sel itu kemudian akan tumbuh menjadi dewasa menggunakan nutrisi dari hancuran tubuh larva. Proses kematian sel disebut histolisis, dan pertumbuhan sel lagi disebut histogenesis.

2.7 Ordo Serangga
Ordo Orthoptera (bangsa belalang). Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain. Anggota dari ordo ini umumnya memiliki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina . Sayap belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap depan
Ordo Hemiptera (bangsa kepik) / kepinding. Ordo ini memiliki anggota yang sangat besar serta sebagian besar anggotanya bertindak sebagai pemakan tumbuhan (baik nimfa maupun imago). Namun beberapa di antaranya ada yang bersifat predator yang mingisap cairan tubuh serangga lain. Umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal ( basal ) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra . Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan.
Ordo Homoptera (wereng, dan kutu). Anggota ordo Homoptera memiliki morfologi yang mirip dengan ordo Hemiptera. Perbedaan pokok antara keduanya antara lain terletak pada morfologi sayap depan dan tempat pemunculan rostumnya. Sayap depan anggota ordo Homoptera memiliki tekstur yang homogen, bisa keras semua atau membranus semua, sedang sayap belakang bersifat membranus.
Ordo Coleoptera (bangsa kumbang). Anggota-anggotanya ada yang bertindak sebagai hama tanaman, namun ada juga yang bertindak sebagai predator (pemangsa) bagi serangga lain. Sayap terdiri dari dua pasang. Sayap depan mengeras dan menebal serta tidak memiliki vena sayap dan disebut elytra. Apabila istirahat, elytra seolah-olah terbagi menjadi dua (terbelah tepat di tengah-tengah bagian dorsal). Sayap belakang membranus dan jika sedang istirahat melipat di bawah sayap depan. Alat mulut bertipe penggigit-pengunyah , umumnya mandibula berkembang dengan baik.
Ordo Lepidoptera (bangsa kupu/ngengat). Dari ordo ini, hanya stadium larva (ulat) saja yang berpotensi sebagai hama , namun beberapa diantaranya ada yang predator. Serangga dewasa umumnya sebagai pemakan/pengisap madu atau nektar. Sayap terdiri dari dua pasang, membranus dan tertutup oleh sisik-sisik yang berwarna-warni. Pada kepala dijumpai adanya alat mulut seranga bertipe pengisap , sedang larvanya memiliki tipe penggigit .
Ordo Diptera (bangsa lalat, nyamuk). Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan disebut halter . Pada kepalanya juga dijumpai adanya antene dan mata facet.
Ordo Hymenoptera (bangsa tawon, tabuhan, semut). Kebanyakan dari anggotanya bertindak sebagai predator/parasitoid pada serangga lain dan sebagian yang lain sebagai penyerbuk. Sayap terdiri dari dua pasang dan membranus. Sayap depan umumnya lebih besar daripada sayap belakang. Pada kepala dijumpai adanya antene (sepasang), mata facet dan occelli.

2.8. Gejala serangan hama
Mengenal kerusakan pada tanaman yang disebabkan oleh berbagai pengganggu akan sangat membantu dalam diagnosis. Diagnosis merupakan proses yang sangat penting. Hasil diagnosis akan menentukan keberhasilan suatu pengelolaan penyakit tanaman. Kegagalan suatu diagnosis akan menyebabkan kegagalan dalam tahap pengendalian. Sebagai contah klasik dikemukakan oleh Fry (1982) pada pertanaman bit gula dipinggiran kota New York terjadi masalah kekerdilan tanaman. Dugaan awal kekerdilan tersebut disebabkan oleh karena kekurangan hara. Namun ternyata aplikasi pemupukan tidak menyelesaikan masalah. Konsultasi dengan ahli penyakit tanaman menyimpulkan bahwa tanaman terserang oleh nematoda Heterodera schachtii. Dengan demikian diagnosis yang baik harus memiliki efektivitas yang tinggi. Disamping itu diagnosis juga harus cepat. Keterlambatan hasil diagnosis karena berbagai hal dapat menyebabkan penyakit sudah berkembang pesat, sehingga hasil tidak dapat diselamatkan. Disamping efektif dan cepat, diagnosis juga harus murah. Biaya diagnosis yang mahal tidak akan terjangkau oleh petani kecil, sehingga mereka enggan pergi ke klinikuntukmemeriksakantanaman.
            Ganguan merupakan suatu proses interaksi anatara berbagai factor yang mempengaruhi. Hasil proses interaksi tersebut dapat dilihat dengan adanya kerusakan pada tanaman, Karena tanaman yang terganggu oleh pengganggu tertentu sering menunjukkan kerusakan akan tertentu pula. Beberapa jenis hama tidak hanya memakan bagian tubuh tanaman tetapi juga mengeluarkan substansi tertentu yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Beberapa jenis hama yang
,lainakan,meninggalkan,bebasaktivitasyangkhas.
            Banyak macam patogen tumbuhan dan tidak sedikit diantaranya yang mempunyai arti ekonomi penting. Setiap macam tanaman dapat diserang oleh banyak macam patogen tumbuhan, begitu pula satu macam patogen ada kemungkinan dapat menyerang sampai berpuluh-puluh tanaman. Sering pula terjadi, bahwa patogen tumbuhan tertentu dapat menyerang satu macam organ tanaman atau ada pula yang menyerang berbagai macam organ tanaman. Sebagai akibat dari reaksi tersebut maka suatu kerusakan tertentu akan tampak pada tanaman. Perkembangan selanjutnya, bagian pathogen atau pathogen itu sendiri dapat menampakkan diri pada permukaan tanaman inang yang abnormal. Abnormalitas atau perubahan-perubahan yang ditunjukkan oleh tanaman sakit sebagai akibat adanya serangan agensia penyakit-penyakit (pathogen) tersebut disebut gejala, sedangkan pengenal yang ditunjukkan oleh selain reaksi tanaman inang disebut tanda. Contoh tanda penyakit misalnya miselium jamur, spora atau konidi jamur, badan buah jamur, mildew, sklerosium, koloni baketri yang berupa lendir, dan sejenisnya.
Parasit yang menyebabkan penyakit pada tanaman pada umumnya membentuk bagian vegetatifnya di dalam jaringan tanaman sehingga tidak tampak dari luar. Tetapi walaupun demikian ia membentuk bagian reproduktifnya pada permukaan tanaman yang diserangnya atau hanya sebagian tampak pada permukaan tersebut. Selan itu sering pula pembentukan propagul dalam bentuk istirahat pada permukaan tanaman. Pada beberapa kasus hampir seluruh bagian dari parasit termasuk, propagul vegetatif dan generatif terdapat pada bagian luar tanaman sehingga dapat dilihat. Dalam hubungan ini untuk penamaan penyakit dapat didasarkan pada struktur patogen yang terlihat:
•Mildew
Merupakan penyakit tanaman dimana patogen terlihat sebagai pertumbuhan pada permukaan luar dari bagian tanaman yang terserang. Biasanya tampak dalam bentuk yang berwarna keputih-putihan pada daun, cabang atau buahnya.
•DownyMildew
Merupakan pertumbuhan yang ditandai dengan lapisan seperti bulu-bulu kapas.
•PowderyMildew
Merupakan bentuk yang terdapat pada permukaan tanaman yang tampak sebagai lapisanpupur.
•Karat
Gejala pada permukaan tanaman seperti karat. Hal ini karena adanya kumpulan spora yang keluar dari stomata dengan warna seperti karat (merah kecoklat-coklatan).
•Smut(Gosong)
Gejala ini menyerupai tepung berwarna kehitam-hitaman dan terdapat pada organ perbungaan,batang,daundansebagainya.
•Kudis
Patogen (tubuh buah) yang muncul pada permukaan bagian yang terserang berbentukagakkasarsepertikudis.
•Cacar
Bagian tanaman biasanya daun muda yang terserang mengelupuh (seperti cacar) dan pada bagian yang menonjol terbentuk lapisaan tubuh buah.
•Bercater(Tarspot)
Bagian yarig terserang agak menonjol dan berwarna hitam. Bagian yang hitam tersebut terdiri dari tubuh buah cendawan.
Perubahan yang ditunjukkan suatu penyakit dapat hanya setempat atau menyeluruh. Abnormalitas yang timbul hanya setempat atau hanya terbatas pada daerah tertentu saja di bagian tubuh tanaman disebut abnormalitas lesional atau local, sedangkan abnormalitas yang timbul pada seluruh tubuh tanaman disebut abnormalitas sistemik. Abnormalitas yang tampak sebenarnya disebabkan oleh adanya perubahan sel-sel bagian tanaman yangbersangkutan.
Penyakit dapat dikenal dengan mata telanjang dari gejalanya atau simptomnya. Penyakit tumbuhan dialam yang belum ada campur tangan manusia adalah hasil interaksi antara pathogen, inang dan lingkungan. Sedangkan penyakit tanaman yang terjadi setelah campur tangan manusia adalah hasil interaksi antara pathogen, inang, lingkungan dan manusia.
Tanaman individual dapat menunjukkan gejala: perubahan warna, perubahan bentuk, kelayuan, dan pertanaman dapat menunjukkan kelompok gejala yang membentuk gambaran penyakit atau sindrom. Dari gambaran penyakit ini orang menentukan penyebabnya atau mengadakan diagnosis. Untuk diagnosis biasanya dilakukan dilapangan atau di laboratorium. Penyakit disebabkan oleh penyebab abiotik dan biotik. Penyebab penyakit abiotik disebut fisiopath, sedang penyebab penyakit yang biotic disebut pathogen. Gejala morfologi penyakit tumbuhan dibedakan atas tiga pokok yaitu : nekrosis (matinya sel, jaringan atau seluruh organ), hipoplasia (terjadinya hambatan pertumbuhan), dan hyperplasia (terjadinya pertumbuhan yang luar biasa).
1.gejalanekrosis
Yaitu tipe kerusakan yang disebabkan karena adanya kerusakan pada sel atau kerusakan bagian sel atau matinya sel. Terdapat berbagai bentuk gejala nekrotik yang disebabkan oleh berbagai patogen yang berbeda pada bagian tanaman yang, diserangnya:
 Bercak. Sel-sel yang rnati hanya terjadi pada luasan terbatas dan
Ø biasanya bewarna kecoklat-coklatan. Sebelum terjadi di kematian sel warnanya agak kekuning-kuningan. Bagian jaringan yang mati seringkali sobek dan terpisah dari jaringan yang ada sekitarnya yang. masih sehat. Gejala tersebut disebut shot-hole atau tembus peluru. Bentuk, lesio dari bercak ini dapat bundar, segi empat bersudut, atau tidak teratur. Sisi bercak berwarna jingga, coklat, dan sebagainya seringkali pada bercak tersebut terlihat adanya tubuh buah.
 Streak dan shipe. bagian yang nekrotik memanjang masing-masing sepanjang tulang daun dan di antara tulang daun
Kanker. Terjadi kematian sel kulit batang terutama pada tanamanØ berkayu. Permukaan bercaknya agak tertekan kebawah atau bagian kulitnya pecah sehingga terlibat bagian kayunya. Pada bagian yang pecah tersebut dapat terlihat adanya tubuh buah cendawan.
 Blight. Menyerupai bentuk yang terbakar. Gejala ini terjadi jika
Ø sel-sel organ tanaman mati secara cepat (daun, bunga, ranting dan sebagainya). Bagian tanaman tersebut menjadi coklat atau hitam.  Damping - off (lodoh). Keadaan di mana batang tanaman diserangØ permukaan tanah. Bagian tanaman yang terserang disekitar permukaan tanah tertekan sehingea tidak mampu untuk menahan beban yang berat dari bagian atas tanaman. Terbakar, scald atau scorch. Bagian tanaman yang sukulen mati atau berwarna coklat akibat temperatur tinggi.Ø
 Busuk. Bagian yang terserang mati, terurai dan berwarna coklat. Hal
Ø ini disebabkan oleh serangan cendawan dan bakteri yang menguraikan ikatan antara dinding sel oleh berbagai enzym. Tergantung dari bagian tanaman yang, terserang maka terdapat berbagai gejala busuk seperti busuk akar, busuk batang, busuk- pucuk, busuk buah. Tergantung pada tipe pembusukan maka terdapat busuk basah, busuk lunak, busuk kering. Layu. Efek dari gejala layu ini daunnya kehilangan ketegarannya danØ layu. Gejala ini diakibatkan oleh kerusakan bagian perakaran, penyumbatan saluran air atau oleh senyawa yang beracun yang dikeluarkan oleh patogen yang terbawa oleh aliran air kebagian atas tanaman.
 Die-back. Terjadi kematian ranting atau cabang dari bagian ujung atasnya dan meluas kebagian sebelah bawahnya.Gugur daun, bunga, buah sebelum waktunya. Hal ini disebabkan oleh gangguan fisiologi atau sebagai akibat tidak langsung oleh gangguan patogen. Perubahan organ tanaman (transportasi) dari organ tanaman jadi bentuk
Ø lain. Bagian tanaman diganti oleh struktur cendawan, seperti bunga yang baru terbuka mengandung kumpulan. spora (smut) atau perbungaan yang seharusnya dibentuk dirubah menjadi bentuk daun (filodi).
 Klorosiskarenarusaknyaklorofil

2.GejalaHipoplasia
Yaitu type kerusakan yang disebabkan karena adanya ambatan atau terhentinya pertumbuhan (underdevelopment) sel atau bagian sel. Terdapat berbagai bentuk gejala hipoplastik yang disebabkan oleh berbagai patogen yang berbeda pada bagiantanamanyang,diserangnya:
Etiolasi : tumbuhan menjadi pucat, tumbuh memanjang dan mempunyai daun-daun yang sempit karena mengalami kekurangan cahaya.
Ø
 Kerdil (atrophy) : gejala habital yang disebabkan karena terhambatnya
Ø pertumbuhan sehingga ukurannya menjadi lebih kecil daripada biasanya.
 Klorosis : terjadinya penghambatan pembentukan klorofil sehingga
Ø bagian yang seharusnya berwarna hijau menjadi berwarna kuning atau pucat. Bila pada daun hanya bagian sekitar tulang daun yang berwarna hijaumaka disebut voin banding. Sebaliknnya jika bagian-bagian daun di sekitar tulang daun yang menguning disebutvoinclearing.
 Perubahan simetri : hambatan pertumbuhan pada bagian tertentu yang
Ø tidak disertai dengan hambatan pada bagian di depannya, sehingga menyebabkan terjadinyapenyimpanganbentuk.
 Roset : hambatan pertumbuhan ruas-ruas (internodia) batang tetapi
pembentukan daun-daunnya tidak terhambat, sebagai akibatnya daun-daun berdesak-desakan membentuk suatu karangan. Klorosis karena terhambatnya pembentukan klorofil

3.gejalahiperplasia
Yaitu tipe kerusakan yang disebabkan karena adanya pertumbuhan sel atau bagian sel atau bagian sel yang melebihi (overdevelopment) dari pada pertumbuhan biasa. Terdapat berbagai bentuk gejala hipoplastik yang disebabkan oleh berbagai patogen yang berbeda pada bagian tanaman yang, diserangnya:
 Erinosa : terbentuknya banyak trikom (trichomata) yang luar biasa
Ø sehingga pada permukaan alat itu (biasanya daun) terdapat bagian yang seperti beledu.
 Fasiasi (Fasciasi, Fasciation) : suatu organ yang seharusnya bulat dan
Ø lurus berubah menjadi pipih, lebar dan membelok, bahkan ada yang membentuk seperti spiral.
 Intumesensia (intumesoensia) : sekumpulan sel pada daerah yang agak
Ø luas pada daun atau batang memanjang sehingga bagian itu nampak membengkak, karena itu gejala ini disebut gejala busung (cedema).
 Kudis (scab) : bercak atau noda kasar, terbatas dan agak menonjol.
Ø Kadang-kadang pecah-pecah. Di bagian tersebut terdapat sel-sel yang berubah menjadi sel-sel gabus. Gejala ini dapat dijumpai pada daun, batang, buah atau umbi.
 Menggulung atau mengeriting : gejala ini disebabkan karena pertumbuhan
Ø yang tidak seimbang dari bagian-bagian daun. Gejala menggulung terjadi apabila salah satu sisi pertumbuhannya selalu lebih cepat dari yang lain, sedang gejala mengeriting terjadi apabila sisi yang pertumbuhannya lebih cepat bergantian.
 Pembentukan alat yang luar biasa terdiri atas Antolisis (antholysis) :
Ø perubahan dari bunga menjadi daun-daun kecil dan Enasi : pembentukan anak daun yang sangat kecil pada sisi bawah tulang daun.
Perubahan Warna : perubahan yang dimaksud di sini adalah perubahanØ yang bukan klorosis yang terjadi pada suatu organ (alat tanam).
 Prolepsis : berkembangnya tunas-tunas tidur atau istirahat (dormant)
Ø yang berada dekat di bawah bagian yang sakit, berkembang menjadi ranting-ranting segar yang tumbuh vertikal dengan cepat yang juga dikenal dengan tunas air.
 Rontoknya alat-alat : rontoknya daun, bunga atau buah yang terjadi
Ø sebelum waktunya dan dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya. Rontoknya alat tersebut karena terbentuknya lapisan pemisah (abcission layar) yang terdiri dari sel-sel yang berbentuk bulat dan satu sama lain terlepas.
 Sapu (witches broom) : berkembangnya tunas-tunas ketiak atau samping
Ø yang biasanya tidur (latent) menjadi seberkas ranting-ranting rapat. Gejala ini umumnya disertai dengan terhambatnya perkembangan ruas-ruas (internodia) batang,daunpadatunasbaru.
 Sesidia (cecidia) atau tumor : pembenkakan setempat pada jaringan
Ø tumbuhan sehingga terbentuk bintil-bintil atau bisul-bisul. Bintil ini dapat terdiri dari jaringan tanaman dengan atau tanpa koloni patogennya. Klorosis karena pigmen maupunklorofilyangberlebihan.
4.gejala
Injury Yaitu tipe kerusakan yang disebabkan karena adanya aktivitas hama tertentu atau setiap bentuk penyimpangan fisiologis tanaman sebagai akibat aktivitas atau serangan OPT.
2.9 Gulma
Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi.
Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Pada tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma. Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak mengganggu. Contoh, kedelai yang tumbuh di sela-sela pertanaman monokultur jagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada sistem tumpang sari keduanya merupakan tanaman utama. Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti teki dan alang-alang.Ilmu yang mempelajari gulma, perilakunya, dan pengendaliannya dikenal sebagai ilmu gulma.

Macam-macam gulma
Biasanya orang membedakan gulma ke dalam tiga kelompok:
  • teki-tekian
  • rumput-rumputan
  • gulma daun lebar.
Ketiga kelompok gulma memiliki karakteristik tersendiri yang memerlukan strategi khusus untuk mengendalikannya.
Gulma teki-tekian
Kelompok ini memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanik karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan. Selain itu, gulma ini menjalankan jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam 'menguasai' areal pertanian secara cepat. Ciri-cirinya adalah penampang lintang batang berbentuk segi tiga membulat, dan tidak berongga, memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun, dan titik tumbuh tersembunyi. Kelompok ini mencakup semua anggota Cyperaceae (suku teki-tekian) yang menjadi gulma. Contoh: teki ladang (Cyperus rotundus), udelan (Cyperus kyllinga), dan Scirpus moritimus.
Gulma adalah sebagai tumbuhan yang tumbuh pada areal yang tidak dikehendaki tumbuh pada areal pertanaman. Gulma secara langsung maupun tidak langsung merugikan tanaman budidaya. Pengenalan suatu jenis gulma dapat dilakukan dengan melihat keadaan morfologinya, habitatnya, dan bentuk pertumbuhanya. Berdasarkan keadaan morfologinya, dikenal gilma rerumputan (grasses), teki-tekian (sedges), dan berdaun lebar (board leaf). Golongan gulma rurumputan kebanyakan berasal dari famili gramineae (poaceae). Ukuran gulma golongan rerumputan bervariasi, ada yang tegak, menjalar, hidup semusim, atau tahunan. Batangnya disebut culms, terbagi menjadi ruas dengan buku-buku yang terdapat antara ruas. Batang tumbuh bergantian pada dua buku pada setiap antara ruas daun terdiri dari dua bagian yaitu pelepah daun dan helaian daun., contoh gulama rerumputan Panicium repens, Eleusine indica, Axonopus compressus dan masih banyak lagi. Golongan teki-tekian kebanykan berasal dari famili Cyperaceae. Golongan ini dari penampakanya hampir mirip dengan golongan rerumputan, bedanya terletak pada bentuk batangnya. Batang dari golongan teki-tekian berbentuk segitiga. Selain itu golongan teki-tekian tidak memiliki umbi atau akar ramping di dalam tanah. Contoh golongan teki-tekian: Cyprus rotundus, Cyprus compresus. Golongan gulma berdaun lebar antara lain: Mikania spp, Ageratum conyzoides, Euparotum odorotum. Berdaarkan habita tunbuhanya, dikenal gulma darat, dan gulma air. Gulma darat merupakan gulma yang hidu didarat, dapat merupakan gulma yang hidup setahun, dua tahun, atau tahunan (tidak terbatas). Penyebaranya dapat melalui biji atau dengan cara vegetatif. Contoh gulma darat diantaranya Agerathum conyzoides, Digitaria spp, Imperata cylindrical, Amaranthus spinosus. Gulma air merupakan gulama yang hidupnya berada di air. Jenis gulma air dibedakan menjadi tiga, yaitu gulma air yang hidupnya terapung dipermukaan air (Eichhorina crassipes, Silvinia) spp, gulma air yang tenggelam di dalam air (Ceratophylium demersum), dan gulma air yang timbul ke permukaan tumbuh dari dasar (Nymphae sp, Sagitaria spp).
Gulma daun lebar
Berbagai macam gulma dari anggota Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini. Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir masa budidaya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Daun dibentuk pada meristem pucuk dan sangat sensitif terhadap kemikalia. Terdapat stomata pada daun terutama pada permukaan bawah, lebih banyak dijumpai. Terdapat tunas-tunas pada nodusa, serta titik tumbuh terletak di cabang. Contoh gulma ini ceplukan (Physalis angulata L.), wedusan (Ageratum conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta), dan putri malu (Mimosa pudica).
Pengendalian gulma
Pengendalian gulma merupakan subjek yang sangat dinamis dan perlu strategi yang khas untuk setiap kasus. Beberapa hal perlu dipertimbangkan sebelum pengendalian gulma dilakukan:
  • jenis gulma dominan
  • tumbuhan budidaya utama
  • alternatif pengendalian yang tersedia
  • dampak ekonomi dan ekologi
Kalangan pertanian sepakat dalam mengadopsi strategi pengendalian gulma terpadu untuk mengendalikan pertumbuhan gulma.
Agensi pengendali gulma dinamakan herbisida (herbicide).

2.10 Pengendalian  PHT
Menurut Smith dan Apple (1978), langkah langkah pokok yang perlu dikerjakan dalam pengembangan PHT adalah sebagai berikut.
Langkah 1
Mengenal Status Hama yang Dikelola
 Hama-hama yang menyerang pada suatu agroekosistem, perlu dikenal dengan baik. Sifat-sifat hama perlu diketahui, meliputi perilaku hama, dinamika perkembangan populasi, tingkat kesukaan makanan, dan tingkat kerusakan yang diakibatkannya. Pengenalan hama dapat dilakukan melalui identifikasi dan  hasil analisis status hama yang ada.
Dalam suatu agroekosistem, kelompok hama  yang ada bisa dikategorikan atas hama utama, hama kadangkala (hama minor), hama potensil, hama migran dan bukan hama. Dengan mempelajari dan mengetahui status hama, dapat ditetapkan jenjang toleransi ekonomi untuk masing-masing kategori hama.
Hama utama atau hama kunci (main pest) merupakan spesies hama yang selalu menyerang pada suatu tempat, dengaan intensitas serangan yang berat dalam daerah yang luas, sehingga memerlukan usaha pengendalian. Tanpa usaha pengendalian, kelompok hama ini akan mendatangkan kerugian ekonomi bagi petani. Biasanya pada suatu agroekosistem, hanya ada satu atau dua hama utama, selebihnya termasuk dalam kategori hama yang lain. Dalam penerapan PHT sasaran yang dituju adalah menurunkan populasi hama utama.
Hama kadangkala atau hama minor (occasional pest) sering juga disebut hama kedua. Kelompok ini merupakan jenis hama yang relatif kurang penting, karena kerusakan yang diakibatkan masih dapat ditoleransikan oleh tanaman. Kadang-kadang populasinya pada suatu saat meningkat melebihi aras toleransi ekonomik tanaman. Peningkatan populasi ini mungkin disebabkan karena gangguan pada proses pengendali alami, keadaan iklim, atau kesalahan pengelolaan oleh manusia. Kelompok hama ini sering kali peka terhadap perlakuan pengendalian yang ditujukan pada hama utama. Oleh karena itu kelompok hama ini perlu diawasi, agar tidak menimbulkan apa yang disebut ledakan populasi hama kedua.
Hama potensil merupakan sebagian besar jenis serangga herbivora yang saling berkompetisi dalam memperoleh makanan. Kelompok hama ini, tidak mendatangkan kerugian yang berarti dan tidak membahayakan dalam kondisi pengelolaan agroekosistem yang normal. Namun karena kedudukannya dalam rantai makanan,  populasi kelompok ini berpotensi meningkat, dan  menjadi  hama yang membahayakan. Hal ini sangat mungkin terjadi, terlebih akibat perubahan cara pengelolaan agroekosistem oleh manusia.
Hama migran merupakan hama yang tidak berasal i dari agroekosistem setempat. Kelompok hama ini datang dari luar, dan sifatnya  berpindah-pindah (migran). Banyak serangga belalang, ulat grayak dan bangsa burung memiliki sifat demikian. Kelompok hama migran kalau datang pada suatu tempat, dapat menimbulkan kerusakan yang berarti. Tetapi hanya dalam jangka waktu yang pendek, karena akan pindah ke daerah lain.
Kecuali empat kelompok tersebut, ada beberapa pakar yang menambah satu kelompok hama lagi yaitu hama sekunder atau hama sporadis. Kelompok hama ini dalam keadaan normal, selalu dapat dikendalikan oleh musuh alaminya, sehingga tidak membahayakan. Kelompok ini baru menjadi masalah bila populasi musuh alami berkurang,  karena  terbunuh oleh pestisida misalnya.
Satu jenis serangga dalam kondisi tempat dan waktu tertentu dapat berubah status, misal dari hama potensil  menjadi hama utama, atau dari hama utama kemudian menjadi hama minor.
Langkah 2
Mempelajari Komponen Saling Tindak dalam Ekosistem
 Komponen suatu ekosistem perlu ditelaah dan dipelajari. Terutama yang mempengaruhi dinamika perkembangan populasi hama-hama utama. Termasuk dalam langkah ini, ialah menginventarisir musuh-musuh alami, sekaligus mengetahui potensi mereka sebagai pengendali alami.
Interaksi antar berbagai komponen biotis dan abiotis, dinamika populasi hama dan musuh alami, studi fenologi tanaman dan hama, studi sebaran hama dan lain-lain, merupakan bahan yang sangat diperlukan untuk menetapkan strategi pengendalian hama yang tepat.
Langkah 3
 Penetapan dan Pengembangan Ambang Ekonomi
 Ambang ekonomi atau ambang pengendalian sering juga diistilahkan sebagai ambang toleransi ekonomik. Ambang ini merupakan ketetapan tentang pengambilan keputusan, kapan harus dilaksanakan penggunaan pestisida. Apabila ternyata populasi atau kerusakan hama belum mencapai aras tersebut, penggunaan pestisida masih belum diperlukan.
Untuk menetapkan ambang ekonomi bukanlah pekerjaan yang gampang. Dibutuhkan banyak informasi, baik data biologi dan ekologi, serta ekonomi. Penetapan kerusakan hasil dalam hubungannya dengan populasi hama, merupakan bagian yang penting dalam pengembangan ambang ekonomi. Demikian juga analisis biaya dan manfaat pengendalian,  sangat perlu diketahui.
Langkah 4
 Pengembangan Sistem Pengamatan dan Monitoring Hama
 Untuk mengetahui padat populasi hama pada suatu waktu dan tempat, yang berkaitan  terhadap ambang ekonomi hama tersebut, dibutuhkan program pengamatan atau monitoring hama secara rutin dan terorganisasi dengan baik. Metode pengambilan sampel secara benar perlu dikembangkan.  Agar data lapangan yang diperoleh dapat dipercaya secara statistik, dan cara pengumpulan data mudah dikerjakan.
Jaringan dan organisasi monitoring yang merupakan salah satu bagian organisasi PHT, perlu dikembangkan agar dapat menjamin ketepatan dan kecepatan arus informasi dari lapangan ke pihak pengambil keputusan pengendalian hama dan sebaliknya.
Langkah 5.
Pengembangan Model Deskriptif dan Peramalan Hama
               Dengan mengetahui gejolak populasi hama dan hubungannya dengan komponen-komponen ekosistem lainnya, maka perlu dikembangkan model kuantitatif yang dinamis. Model yang dikembangkan diharapkan mampu menggambarkan gejolak populasi dan kerusakan yang ditimbulkan pada waktu yang akan datang. Sehingga, akan dapat diperkirakan dinamika populasi, sekaligus mempertimbangkan bagaimana penanganan agar tidak sampai terjadi ledakan populasi yang merugikan secara ekonomi.
Langkah 6
 Pengembangan Srategi Pengelolaan Hama 
Strategi dasar PHT adalah menggunakan taktik pengendalian ganda dalam suatu kesatuan sistem yang terkordinasi. Strategi PHT mengusahakan agar populasi atau kerusakan yang ditimbulkan hama tetap berada di bawah aras toleransi manusia. Beberapa taktik dasar PHT antara lain : (1). memanfaatkan pengendalian hayati yang asli ditempat tersebut, (2). mengoptimalkan pengelolaan lingkungan melalui penerapan  kultur teknik yang baik, dan  (3). penggunaan pestisida secara selektif.
Srategi pengelolaan hama berdasarkan PHT, menempatkan pestisida sebagai alternatif terakhir. Pestisida digunakan, jika teknik pengendalian yang lain dianggap tidak mampu mengendalikan  serangan hama.
Langkah 7
Penyuluhan Kepada Petani Agar Menerima dan Menerapkan PHT 
Petani sebagai pelaksana utama pengendalian hama, perlu menyadari dan mengerti tentang cara pendekatan PHT, termasuk bagaimana menerapkannya di lapangan. Pemahaman lama secara konvensional tentang “pemberantasan” hama, perlu diganti dengan pengertian “pengendalian” atau “pengelolaan” hama. Petani perlu diberikan kepercayaan dan kemampuan untuk dapat mengamati sendiri dan melaporkan keadaan hama pada pertanamannya. 
Langkah 8
 Pengembangan Organisasi PHT
      Sistem PHT mengharuskan adanya suatu organisasi yang efisien dan efektif,  yang dapat bekerja secara cepat dan tepat dalam menanggapi setiap perubahan yang terjadi pada agroekosistem. Organisasi tersebut tersusun oleh komponen monitoring, pengambil keputusan, program tindakan, dan penyuluhan pada petani. Organisasi PHT merupakan suatu organisasi yang mampu menyelesaikan permasalahan hama secara mandiri, pada daerah atau unit kerja yang menjadi tanggungjawabnya.

BAB III
BAHAN DAN METODA

3.1. Tempat dan Waktu
            Pelaksanaan praktikum Dasar-dasar Perlindungan tanaman ini bertempat di Laboratorium Mikrobiologi Perlindungan Tanaman Faperta, yang dilaksanakan sebanyak 8 kali pertemuan mulai Oktober sd  Desember 2011. Praktikum dilaksanakan setiap hari senin pukul 11.20 sd 13.00 WIB.
           
3.2. Alat dan Bahan
            Dalam praktikum ini tidak banyak dipergunakan pasilitas yang ada di laboratorium, praktiukum dilakukan pengamatan secara langsung dan menggambar serta mengidentifikasi dari penyebab OPT. Yang perlu disiapkan Buku gambar, Pensil, Penggaris, Pensil berwarna dan Objek yang terserang hama atau Penyakit.serangga (belalang), buku gambar, pensil, penggaris, penghapus, mikroskop, jarum ose, alkohol, dll.

3.3    Cara Kerja
Metoda moist chamber
Cara Kerja Moist chamber yang pratikan lakukan adalah :
Pertama sediakan alat dan bahan terlebih dahulu,lalu potong dingan pisau bagian yang terkena antraknosa dengan perbandingan satu banding satu (1:1), artinya setengah bagian yang sehat dan setengah yang sakit,setelah dipotong sampai 8 bagian dan disterilisasi kan dengan aquades,alqohol lalu akuades lagi,setelah disterilisasi ambil dengan pinset bagian tanaman tadi lalu masukan ke dalam petri dish yang telah di isi media tumbuh organisme(agar),lalu ingkubasi di ruangan ingkubator 5 kali 24 jam.lalu amati dan gambar,dokumentasikan.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1   Patogen Jamur Pada Tanaman
Patogen penyebab penyakit pada tanaman akan Nampak gejala nya pada tanaman sehingga kita dapat menentukan apakah patogen nya Jamur,bakteri,Virus dan Nematoda.Pada pratikum yang pratikan laksanakan pratikan menganalisa gejalah dari daun tanaman yang terkena virus,dari daun tersebut secara makroskopis dapat dilihat gejala nya seperti ada Hiva pada daun tersebut,ada miselium ada spora pada daun tersebut sehingga pratikan dapat memastikan bahwa daun tersebut terkena pathogen Jamur.dan pada daun terdapat Karat : Gejala pada permukaan tanaman seperti karat. Hal ini karena adanya kumpulan spora yang keluar dari stomata dengan warna seperti karat (merah kecoklat-coklatan).

4.2  Patogen Virus pada Tanaman Capsicum  annum
Pada tanaman cabe yang pratikan analisa terdapat gejala gejala patogen pada tanaman cabe tersebut diantara nya adalah daun rapuh, daun keriting,warna daun kekuning kuningan,gejala tampak pada permukaan daun yang keriting daun mudah nya dan berwarna kekuning kuningan daun mudah nya.
Seringkali warna hijau pada bagian tanaman yang terserang berubah menjadi warna kuning. Perubahan tesebut dapat terjadi oleh berbagai berikut sebab :
  • Etiolasi. Akibat kekurangan cahaya atau terlalu lama tumbuh di tempat gelap.
  • Khlorosis. Akibat temperatur rendah, kekurangan Fe, terserang virus, gangguan oleh cendawan, bakteri dan sebagainya.
  • Khorornosis. Warna hijau dirubah oleh zat yang memberi warna, merah jingga dan sebagainya.
  • Albino. Tanaman gagal membentuk zat warna.
Gejala pathogen virus diantara nya mosaic,bercak bercincin,percabangan yang berlebihan,vein clearing,vein banding,kedil,klorosis,keriting,kerupuk,menggulung daun.
4.3  Identifikasi Bakteri
Pengamatan Makroskopis pada patogen Bakteri Xanthomonas axonopodis ini didapatkan hasil pengamatan nya warna koloni pada bakteri ini adalah warnah kuning bentuk permukaan nya cembung sedangkan diameter nya 0,5 cm dan bentuk bakterinya Reguler.Sedangkan pada pengamatan mikroskopis pada pathogen jamur Fusarium.sp didapatkan hasil Pusatnya bewarna restua dengan tepi merah mudah,konidia pada fusarium sp sering berbentuk bulan sabit,dalam pengamatan dengan mikroskopis kita dapat melihat dibawah mikroskop langsung ada hiva dan miselium pada objek glass yang telah diambil sampel pada petri dish yang hidup pathogen jamur Fusarium sp.
4.4 Nematoda
Pada pengamatan Nematoda ada beberapa gejala yang dapat dilihat pada tanaman puru pada akar,daun dan biji,bintil bintil akar,bercak akar,layu,kerdil,bercak daun dan luka akar,Contoh penyebab penyakit nematoda adalah bengkak akar pada wortel
4.5 Morfologi Serangga
            Morfologi Serangga,Serangga memiliki 3 bagian dalam tubuh nya diataranya adalah kepala serangga, Toraks serangga dan Abdomen Serangga. Pada bagian kepala serangga Terdapat Antena serangga di antena nya ada 4 bagian yaitu flagellum, pedicel,scape,Antennal Sclerite.ada Mulut serangga Pada mulut serangga ada 4 macam tipe mulutnya antara lain menggigit-mengunya,menusuk-menghisap,meraut-menghisap,meraut menghisap.Pada bagian Abdomen Serangga Terdapat Sayap serangga pada bagian mesa dan meta,Tungkai Serangga,Dan pada bagian Abdomen serangga terdapat alat kelamin betina untuk meletakan telur Ovipositor.
4.6 Perkembang Biakan Serangga
            Pada pratikum perkembang biakan serangga kami pratikan membahas perkembangan biakan seranggga secara embrionik yaitu bertelur,beranak dan bertelur beranak, dan Perkembangbiakan pascaembrionik atau setelah bertelur,dan pratikan membahas Metamorfosis pada serangga.
            Metamorfosis Serangga ada 4 macam tapi yang pratikan lakukan dan laksanakan hanya 3 macam metamorfosis diantara nya metamorfosis ametabola,paurometabola dan homometabola.Pada pengamatan ametabola pratikan menggambar gaead dan imago Thysanura,pada metamorfosis ametabola ini bentuk luar serangga pradewasa serupa dengan imago nya kecuali ukuran dan kematangan alat kelamin contoh nya kutu buku.Pada pengamatan paurometabola bentuk umum serangga pradewasa menyerupai serangga dewasa tetapi terjadi perbedaan pada bentuk sayap danalat kelamin. Pada metamorfoosis kupu kupu dengan metamorfosi holometabola telur yanng mula mula akan berubah menjadi larva dan larva akan menjadi pupa pada fase pupa akan menjadi serangga dewasa.

4.7 Ordo Serangga patogen Tanaman
            Dari pratikum yang telah pratikan lakukan Pratikan menggambar Serangga dengan oRdo yang berbeda beda sebanyak 5 ordo Serangga,dan memberikan catatan pada gambar tersebut ciri dari ordo ordo serangga yang di gambar.
@Kupu kupu
OrdoLepidoptera
Dari ordo ini, hanya stadium larva (ulat) saja yang berpotensi sebagai hama, namun beberapa diantaranya ada yang predator. Serangga dewasa umumnya sebagai pemakan/pengisap madu atau nektar.
Sayap terdiri dari dua pasang, membranus dan tertutup oleh sisik-sisik yang berwarna-warni. Pada kepala dijumpai adanya alat mulut seranga bertipe pengisap, sedang larvanya memiliki tipe penggigit. Pada serangga dewasa, alat mulut berupa tabung yang disebut proboscis, palpus maxillaris dan mandibula biasanya mereduksi, tetapi palpus labialis berkembang sempurna.
Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> larva —> kepompong —> dewasa. Larva bertipe polipoda, memiliki baik kaki thoracal maupun abdominal, sedang pupanya bertipe obtekta.
@. Lalat Buah
OrdoDiptera
Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan disebut halter. Pada kepalanya juga dijumpai adanya antene dan mata facet.
Tipe alat mulut bervariasi, tergantung sub ordonya, tetapi umumnya memiliki tipe
penjilat-pengisap, pengisap, atau pencucuk pengisap. Pada tipe penjilat pengisap alat mulutnya terdiri dari tiga bagian yaitu : 1.bagian pangkal yang berbentuk kerucut disebut rostum 2. bagian tengah yang berbentuk silindris disebut haustellum
3. bagian ujung yang berupa spon disebut labellum atau oral disc.
Metamorfosenya sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> larva —> kepompong —> dewasa. Larva tidak berkaki (apoda_ biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging, namun ada pula yang bertindak
sebagai hama, parasitoid dan predator. Pupa bertipe coartacta.
 @. Andrena sp
OrdoHymenoptera
Kebanyakan dari anggotanya bertindak sebagai predator/parasitoid pada serangga lain dan sebagian yang lain sebagai penyerbuk.Sayap terdiri dari dua pasang dan membranus. Sayap depan umumnya lebih besar daripada sayap belakang. Pada kepala dijumpai adanya antene (sepasang), mata facet dan occelli.
Tipe alat mulut penggigit atau penggigit-pengisap yang dilengkapi flabellum sebagai alat pengisapnya.Metamorfose sempurna (Holometabola) yang melalui stadia : telur-> larva–> kepompong —> dewasa. Anggota famili Braconidae, Chalcididae, Ichnemonidae, Trichogrammatidae dikenal sebagai tabuhan parasit penting pada hama tanaman.Beberapa contoh anggotanya antara lain adalah :
-           Trichogramma sp. (parasit telur penggerek tebu/padi).
-           Apanteles artonae Rohw. (tabuhan parasit ulat Artona).
-           Tetratichus brontispae Ferr. (parasit kumbang Brontispa).
@ Belalang
OrdoOrthoptera
            Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain.
Anggota dari ordo ini umumnya memilki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina. Sayap belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap depan.
Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum. Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen).
Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya.Metamorfose sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur —> nimfa —> dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya.
@.Rayab
Ordo pada rayap adalah Isoptera,tekstur sayap seperti membran,bentuk dan pembulu sayap depan dan belakang semu,metamorfosa paurometabola dan pada mulut rayap bertipe mulutut menggigit dan mengunya.
4.8 Pratikum Lapangan Pengamatan Hama dan penyakit tanaman.
Pada tanaman brokoli gejala serangan korokan pada daun dan berlobang lobang daun nya,opt nya liriomiza,pada kubis gejala serangan ada spora di daun OPT nya jamur. Pada tanaman worter gejala serangan hama nya adalah berkurang nya volume daun nya.daun bawang gejala nya terdapat korokan pada daun hama nya liriomiza pada tanaman yang sama hama memakan epidermis daun bagian dalam oleh hama spodektera isigua,pada tanaman cabe gejala nya ada daun keriting,warnah kekuning kuningan dan bercak hitan dan daun rapuh OPT nya ada Virus,pada tanaman teronggejala daun daun berlobang dan korokan pada daun hama nya pupa coleoptera.padi gejalanya bercak coklat OPT Anternaria pori,pada tanaman nya sama gejala nya gampang putus bulir kosong semua seperti penggerek batabang.pada tanaman kacang panjang gejalanya bercak coklat dikelilingi kuning kuning yang OPT nya Cocospora alacidicola.







BAB V
PENUTUP

5. 1.       Kesimpulan
Pengendalian hama merupakan upaya manusia untuk mengusir, menghindari dan membunuh secara langsung maupun tidak langsung terhadap spesies hama. Pengendalian hama tidak bermaksud memusnahkan spesies hama, melainkan hanya menekan sampai pada tingkat tertentu saja sehingga secara ekonomi dan ekologi dapat dipertanggungjawabkan.
Penyebab penyakit atau patogen dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu Biotik (parasit) dan Abiotik (fisiopat). Kelompok biotik terdiri dari Tumbuhan tinggi parasitik, yang dapat bersifat parasit sejati dan setengah parasit.
5. 2.          Saran
Untuk lebih efektifnya praktikum diharapkan para praktikan agar mematuhi semua peraturan yang ada pada saat di dalam laboratorium dan membawa objek praktikum yang lengkap.


DAFTAR PUSTAKA

Agrios, G. N. 1988. Plant Pathology. Academic Press, Inc. San Diego, California.
Arief, arifin. 1994. Perlindungan Tanaman Hama Penyakit dan Gulma. Usaha Nasional. Surabaya.
Dharmadi, A. dan Wahyu H., 1997. Petunjuk Kultur Teknis Tanaman Tea.  
PPTK Gambung.
Hidayat, Anwar. Ir., MS.2001. Metode Pengendalian Hama. Depdiknas. Jakarta
Jahmadi 1972. Budidaya Dan Pengolahan KOPI. BPP JEMBER.
Muzik, T.J. 1970. Weed Biology and Control. McGrow Hill Book Comp. New York.
Parnata, 1980. Keadaan Hama Dan Penyakit Tanaman Coklat Di Sumatera
Utara Dewasa Ini BPP (RISPA) Medan
Pujiatmoko, 2008. Budidaya Tanaman Tomat
Smith, R.F.1978. Distory and Complexity of Integrated Pest Management. In: Pest Control Strategis. S.H. Smith and D. Pimentel (Ed.). Acad. Press. New York.
Smith, R.F and J.L. Apple. 1978. Principles of Integrated Pest Control. IRRI Mimeograph.
Totok Herwanto 1988. Peralatan Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman,
Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik Pertanian. Bandung.
Triharso. 1996. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar